Jumat, 21 Januari 2011

Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe

| Jumat, 21 Januari 2011 |0 komentar

Ingin Langganan Artikel Menarik?
Kirim artikel ini dan dapatkan artikel-artikel menarik terbaru.

Home » Site Map » Category [ | | ] » Disini
Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Cara Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Gunakan Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Cara Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Analisa Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Analisis Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Kandungan Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Manfaat Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Cara-cara Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe Update
Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe Lengkap

1
ANALISIS KANDUNGAN LIMBAH CAIR PABRIK TEMPE
Erry Wiryani
Lab. Ekologi Dan Biosistematik Jur. Biologi F MIPA. UNDIP Semarang.
ABSTRAK
Limbah cair yang berasal dari proses pembuatan tempe apabila tidak
dikelola dengan baik dan hanya langsung dibuang diperairan akan sangat
mengganggu lingkungan disekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan
terciumnya bau busuk disekitar lokasi pabrik tempe.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahan bahan pencemar yang
terdapat didalam limbah cair yang berasal dari proses pembuatan tempe. Guna
mencapai tujuan tersebut di atas maka dilakukan analisis pada limbah cair yang
berasal dari proses perebusan dan perendaman kedelai. Hasil yang diperoleh
ternyata limbah cair yang berasal dari proses perebusan dan perendaman kedelai
tersebut, mempunyai nilai suhu, TDS, TSS, BOD, COD serta amoniak bebas yang
melebihi standart baku mutu limbah cair, sehingga dapat mencemari lingkungan.
Kata kunci : Pabrik Tempe. limbah Cair . Pencemaran Lingkungan.
ABSTRACT
Waste water from process of produce tempe if it doesn’t managed well
and thrown directly in to the river will be damaged the environment around it. We
can see this matter from the bad smell around tempe factory.
These research aims to know about pollutants there are in waste water
come from process of produce tempe. To reach the target hence to analysis the
waste water from boiling process and soak process of soy. Result of these
research, in the waste water from boiling process and soak of soy, having
temperature , TDS, TSS, BOD, COD and also NH3N , exceed standard quality of
waste water, so that can contaminate the environment.
Key words: Tempe Production. Waste Water. Pollution
2
PENDAHULUAN
Tempe sudah diakui mempunyai peran yang besar dalam usaha
meningkatkan gizi masyarakat terutama bagi golongan menengah kebawah.
Disamping itu industri tempe yang sebagian besar masih merupakan industri
rumah tangga dan dikerjakan secara tradisional, telah mampu menyerap banyak
tenaga kerja.
Hampir disetiap kota di Indonesia, khususnya di pulau Jawa akan mudah
dijumpai pabrik pembuatan tempe. Indonesia dapat dipandang sebagai salah satu
negara yang kaya akan teknologi fermentasi secara tradisional, dan tempe
merupakan salah satu produk yang paling menonjol. Dengan teknologi yang
masih sederhana dan nilai gizi yang tinggi serta harga yang relatif murah, maka
tempe cukup terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Perbandingan nilai gizi
kedelai dan tempe disajikan pada Tabel 1. berikut ini :
Tabel 1. Nilai Gizi Kedelai Dan Tempe (Slamet dan Tarwotjo, 1980)
Kadar zat gizi (%)
bahan kering
Kedelai Tempe
Protein 46,2 46,5
Lemak 19,1 19,7
Karbohidrat 28,5 30,2
Serat 3,7 7,2
Berkat pengaruh publikasi tentang manfaat tempe dan nilai gizinya untuk
kesehatan manusia, maka tampak adanya usaha pembuatan tempe kedelai yang
meningkat di Amerika dan terutama di Jepang (Karyadi, 1985).
Jumlah pabrik tempe yang banyak dan sebagian besar mengambil lokasi
disekitar sungai ataupun selokan selokan guna memudahkan proses pembuangan
limbahnya, akan sangat mencemari lingkungan perairan disekitarnya. Hal ini
dapat terjadi karena belum adanya upaya penanggulangan limbah.
3
Proses produksi tempe, memerlukan banyak air yang digunakan untuk
perendaman, perebusan, pencucian serta pengupasan kulit kedelai. Limbah yang
diperoleh dari proses proses tersebut diatas dapat berupa limbah cair maupun
limbah padat. Sebagian besar limbah padat yang berasal dari kulit kedelai, kedelai
yang rusak dan mengambang pada proses pencucian serta lembaga yang lepas
pada waktu pelepasan kulit, sudah banyak yang dimanfaatkan untuk makanan
ternak. Limbah cair berupa air bekas rendaman kedelai dan air bekas rebusan
kedelai masih dibuang langsung diperairan disekitarnya (Anonim, 1989). Jika
limbah tersebut langsung dibuang keperairan maka dalam waktu yang relatif
singkat akan menimbulkan bau busuk dari gas H 2 S, amoniak ataupun fosfin
sebagai akibat dari terjadinya fermentasi limbah organik tersebut (Wardojo,1975).
Adanya proses pembusukan, akan menimbulkan bau yang tidak sedap, terutama
pada musim kemarau dengan debit air yang berkurang. Ketidak seimbangan
lingkungan baik fisik, kimia maupun biologis dari perairan yang setiap hari
menerima beban limbah dari proses produksi tempe ini, akan dapat mempengaruhi
kualitas air dan kehidupan organisme di perairan tersebut .
Tabel 2. Proses Produksi Tempe Skala Pilot Plant ( Steinkraus et al 1965 dalam
Winarno 1984)
KEDELAI Rendaman Hilang Bahan Kering
1. Sortasi 1000 gram
2. Kupas Kulit (Burr
Mill)
3. Pemisahan Kulit 80 gram kulit 8 %
4. Rendam Kotiledon 2
jam suhu 25 0 C ( atau 30
menit suhu 100 0 C dalam
larutan asam laktat)
920 gram kotiledon
5. Rebus 90 menit 798 gram 12,2 %
6.Dinginkan sampai 38 0
C
4
7. Inokulasi, campur
8. Tebar dalam wadah
9.Tutup dengan kertas
berlilin
10. Inkubasi pada 35 – 38
0 C. RH 75 – 85 %,
selama 18 jam.
1,7 %
11. Tempe
12. Tempe Kering 781 gram tempe kering
(78,1 % berat kering )
Jumlah : 21,9 %
13. Dipak.
Pengembangan proses pembuatan tempe (Tabel 2.) dalam skala
menengah atau pilot plant telah dilakukan oleh Steinkraus et al. (1965) dalam
(Winarno, 1984). dengan menggunakan prinsip pembuatan secara tradisional.
Bahan yang terbuang dalam proses pembuatan tempe yang berasal dari 1000 gram
tempe kedelai adalah sebesar 21,9 % yang terdiri dari 8 % kulit, 12,2 % larut
dalam proses perebusan dan 1,7 % hilang pada proses inkubasi. Selama ini masih
banyak para produsen tempe yang menggunakan air sungai untuk mencuci
kedelai maupun untuk proses pelepasan kulit kedelai dengan cara menginjak
injak kedelai yang sudah direbus setengah matang, supaya mudah lepas dan
limbah langsung dibuang kesungai.
Pada proses pembuatan tempe diperlukan proses perebusan kedelai selama
kurang lebih setengah jam kemudian dilakukan perendaman kedelai selama satu
malam dan proses fermentasi selama dua hari.
5
PEREBUSAN
PEMBUNGKUSAN
(Dengan Daun Pisang)
PENIRISAN
PERAGIAN
PENCUCIAN
PEMISAHAN KULIT
PEMECAHAN
PENCUCIAN
PERENDAMAN
Kedelai masak
Kedelai rendaman
Kedelai bersih
Campuran kedelai kupas dan kulit
Kedelai kupas
Kedelai bersih
Air untuk merebus air limbah
Air rendaman air limbah
air limbah
air limbah + kulit
air limbah
Air untuk pemisahan
Air pencuci
Air pelarut ragi
air limbah
K E D E L A I
T E M P E
Gambar 1. Bagan Proses Pembuatan Tempe ( Said dan Herlambang, 2003)
Berdasarkan bagan tersebut diatas nampak bahwa hampir disetiap tahap
pembuatan tempe menghasilkan limbah. Komposisi kedelai dan tempe yang
sebagian besar terdiri dari protein, karbohidrat dan lemak, maka dalam
limbahnyapun dapat diduga akan terkandung unsur unsur tersebut. Dalam banyak
hal, akibat nyata dari polutan organik adalah penurunan konsentrasi oksigen
terlarut dalam air karena dibutuhkan untuk proses penguraian zat zat organik.
6
Pada perairan yang tercemar oleh bahan organik dalam jumlah yang besar,
kebutuhan oksigen untuk proses penguraiannya lebih banyak dari pada pemasukan
oksigen keperairan, sehingga kandungan oksigen terlarut sangat rendah. Hal ini
sangat membahayakan kehidupan organisme perairan tersebut. Sisa bahan organik
yang tidak terurai secara aerob akan diuraikan oleh bakteri anaerob, sehingga akan
tercium bau busuk.
BAHAN DAN METODE
Guna mengetahui kandungan limbah cair dari proses pembuatan tempe ini,
dilakukan pengujian secara fisik maupun kimiawi. Bahan berupa limbah cair
yang diperoleh dari pabrik tempe dan limbah yang diambil adalah limbah cair
dari proses perebusan kedelai dan perendaman kedelai. Disamping itu juga
dianalisis air sumur yang digunakan untuk kegiatan pembuatan tempe.
Jumlah sample yang diperlukan adalah tiga sample air rebusan kedelai,
tiga sample air perendaman kedelai serta dua sample air sumur yang digunakan
untuk proses pembuatan tempe. Parameter kualitas air yang diukur adalah
parameter kunci yang berhubungan erat dengan limbah organik yaitu suhu , TDS ,
TSS, pH, NH3N , NO3N, PO4, BOD,COD dan DO, yang kemudian dianalisis
berdasarkan cara American Public Health Assosiation APHA, 1976, yaitu
Standard Methods For the Examination Of Water and Waste Water.
Data yang diperoleh dibandingkan dengan Baku Mutu Limbah Cair
Golongan 1V ( standart paling rendah) berdasarkan (Anonim, 1991).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemahaman akan bahan pencemar yang terdapat dalam limbah cair yang
berasal dari proses pengolahan kedelai menjadi tempe merupakan suatu hal yang
penting. Pemahaman ini diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemarannya
serta mengkaji cara cara pengelolaan limbah yang tepat.
7
Tabel 3. Hasil Analisis Kandungan Limbah Cair Pabrik Tempe
No. Parameter Satuan Baku Mutu
Air Limbah
(Gol. 1V)
Limbah
Cair Dari
Rebusan
Kedelai
(Rata rata)
Limbah
Cair Dari
Rendaman
Kedelai
(Rata rata)
1. Suhu 0 C 45 75 32
2. TDS (Total
Dissolve Solid)
mg / l 5.000 25.060 25.254
3. TSS (Total
Suspended Solid)
mg / l 500 4.012 4.551
4. pH - 5 - 9 6 4,16
5. NH3N (Amoniak
bebas)
mg / l 20 16,5 26,7
6. NO3N (Nitrat) mg / l 50 12,52 14,08
7. DO (Dissolve
Oxygen)
mg / l - ttd ttd
8. BOD (Biological
Oxygen Demand )
mg / l 300 1.302,03 31.380,87
9. COD (Chemical
Oxygen Demand)
mg / l 600 4.188,27 35.398,87
Keterangan: Tercetak tebal berarti melampaui standart Baku Mutu Limbah Cair .
Ttd berarti tidak terdeteksi.
Berdasarkan Tabel 3. tersebut diatas dapat dinyatakan bahwa baik limbah
cair yang berasal dari air rebusan maupun air rendaman kedelai berpotensi untuk
mencemari lingkungan perairan disekitarnya.
Suhu limbah cair yang berasal dari rebusan kedelai mencapai 75 O C.
Apabila setiap hari perairan memperoleh pasokan limbah cair dengan suhu yang
tinggi maka akan membahayakan kehidupan organisme air. Suhu yang optimum
untuk kehidupan dalam air adalah 25 - 30 0 C. Air sungai yang suhunya naik akan
8
mengganggu kehidupan hewan maupun tanaman air karena kadar oksigen terlarut
akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu (Wardhana, 2004).Tumbuhan air
akan terhenti pertumbuhannya pada suhu air dibawah 10 0 C atau diatas 40 0 C .
Terdapat hubungan timbal balik antara oksigen terlarut dengan laju pernapasan
mahkluk hidup. Meningkatnya suhu akan menyebabkan peningkatan laju
pernapasan makhluk hidup dan penurunan oksigen terlarut dalam air. Laju
penurunan oksigen terlarut (DO) yang disebabkan oleh limbah organik akan lebih
cepat karena laju peningkatan pernapasan makhluk hidup yang lebih tinggi
(Connel dan Miller, 1995).
Limbah cair dari proses perebusan dan perendaman kedelai, mempunyai
nilai TDS dan TSS yang jauh melewati standart baku mutu limbah cair.
Pengaruh Padatan tersuspensi (TSS) maupun padatan terlarut (TDS) sangat
beragam, tergantung dari sifat kimia alamiah bahan tersuspensi tersebut.
Pengaruh yang berbahaya pada ikan, zooplankton maupun makhluk hidup yang
lain pada prinsipnya adalah terjadinya penyumbatan insang oleh partikel partikel
yang menyebabkan afiksiasi. Disamping itu juga adanya pengaruh pada perilaku
ikan dan yang paling sering terjadi adalah penolakan terhadap air yang keruh,
adanya hambatan makan serta peningkatan pencarian tempat berlindung . Pola
yang ditemukan pada sungai yang menerima sebagian besar padatan tersuspensi ,
secara umum adalah berkurangnya jumlah spesies dan jumlah individu makhluk
hidup (Connel dan Miller, 1995).
Derajat keasaman limbah cair dari air rebusan kedelai telah melampaui
standart baku mutu. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang
dibuang ke perairan akan mengubah pH air, dan dapat mengganggu kehidupan
organisme air. Air normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan mempunyai
pH berkisar antara 6,5 - 7,5 (Wardhana, 2004).
Limbah dari proses pembuatan tempe ini termasuk dalam limbah yang
biodegradable yaitu merupakan limbah atau bahan buangan yang dapat
dihancurkan oleh mikroorganisme. Senyawa organik yang terkandung didalamnya
akan dihancurkan oleh bakteri meskipun prosesnya lambat dan sering dibarengi
dengan keluarnya bau busuk. Konsentrasi amoniak sebesar 0,037 mg / l sudah
9
dapat menimbulkan bau amoniak yang menyengat. Dalam limbah domestik,
sebagian besar nitrogen organik akan diubah menjadi amoniak pada pembusukan
anaerobik dan menjadi nitrat atau nitrit pada pembusukan aerob (Mahida, 1986).
Kandungan limbah cair dari proses pembuatan tempe tersebut diatas ternyata
untuk nitrat masih berada dibawah ambang batas, akan tetapi amoniak bebas dari
limbah rendaman kedelai sudah melampaui ambang batas, hal ini tentu dapat
membahayakan lingkungan perairan.
Bahan buangan biodegradable merupakan nutrien bagi tumbuhan air
(Prawiro, 1988). Kandungan bahan buangan biodegradable yang tinggi pada
perairan dapat menimbulkan eutrofikasi sehingga menyebabkan terjadinya
blooming population beberapa tumbuhan air seperti Alga, Phytoplankton maupun
Eceng Gondok (Eichhornia crassipes Solm) (Wardhana, 2004). Terjadinya
peningkatan eutrofikasi mengakibatkan daerah bentik yang kekurangan oksigen
terlarut akan semakin meluas. Hal ini dapat menurunkan jumlah habitat yang
sesuai untuk ikan dan dapat menyebabkan penurunan jumlah ikan secara
keseluruhan (Connel dan Miller, 1995). Nilai Biological Oxygen Demand (BOD
atau kebutuhan oksigen biologis) dari limbah cair ini sangat tinggi sehingga
jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme didalam perairan untuk
mendegradasi limbah tersebut, sangat besar. Bahan organik akan diuraikan oleh
mikroorganisme menjadi gas CO2, H2O dan gas NH3. Gas NH3 inilah yang
menimbulkan bau busuk. Demikian juga dengan angka Chemical Oxigen Demand
( COD atau kebutuhan oksigen kimiawi) sangat tinggi sehingga akan
membutuhkan oksigen yang sangat besar agar limbah cair tersebut dapat
teroksidasi melalui reaksi kimia. Dalam hal ini limbah organik akan dioksidasi
oleh Kalium bikromat ( K2Cr2O7 ) menjadi gas CO2 dan H2O serta ion Chrom
(Wardhana, 2004).
Adapun dari air sumur yang digunakan pada proses pembuatan tempe ini
mempunyai kriteria yang masih memenuhi standart kualitas air golongan B, yaitu
tidak berwarna, tidak berasa dan berbau normal serta kekeruhan, zat padat terlarut
dan pH yang masih memenuhi syarat kesehatan.
KESIMPULAN
10
Berdasarkan hasil penelitian maka limbah cair dari proses pembuatan
tempe baik pada proses perebusan kedelai maupun perendaman kedelai memiliki
nilai TDS, TSS, Amoniak bebas, BOD maupun COD yang telah melewati standart
baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, 1989. Tahu Tempe, Pembuatan, Pengawetan dan Pemanfaatan
Limbah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan IPB.
Bogor.
2. Anonim, 1991. Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan ( Keputusan
Menteri Negara KLH No. KEP. 03/MENKLH/II/1991)..Sekretariat
Menteri Negara Kependudukan Dan Lingkungan Hidup . Jakarta.
3. Connell, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi lingkungan. UI
Press. Jakarta.
4. Karyadi, D. 1985. Prospek Pengembangan Tempe Dalam Upaya Peningkatan
Status Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Departemen Kesehatan RI
. Jakarta.
5. Mahida , U N. 1986. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV
Rajawali. Jakarta.
6. Prawiro, R. 1988. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Satya Wacana. Semarang .
7. Slamet, D S. dan Ig. Tarwotjo. 1980. Komposisi Zat Gizi Makanan Indonesia.
Depertemen Kesehatan R I . Jakarta.
8. Said, N I dan A. Herlambang. Teknologi Pengolahan Limbah Tahu Tempe
Dengan Proses Biofilter Anaerob dan Aerob. Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi. Jakarta.
9. Wardoyo, S.T.H. 1975. Pengelolaan Kualitas Air. IPB. Bogor.
10. Winarno, F.G. 1984. Bahan Pangan Terfermentasi. IPB. Bogor.
11. Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi.
Yogyakarta.

Keyword :
Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Cara Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Gunakan Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Cara Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Analisa Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Analisis Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Kandungan Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Manfaat Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Cara-cara Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe
Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe Update
Pemanfaatan Limbah Tempe dan Tahu | Pemanfaatan Limbah Tempe Lengkap

Protected By : DMCA.com MyFreeCopyright.com Registered & Protected
UU Nomor 19 Tahun 2002 [ UU Hak Cipta ]

Anda tertarik dengan artikel ini? Bila Anda ingin me-Copy artikel ini,
Silahkan besertakan sumber dengan menaruh alamat berikut ke dalam artikel :


Loading...
Lihat semua Artikel disini | Site Map | Submit artikel ini ke LintasBerita.com
Yang mungkin Anda cari :

Poskan Komentar | Kembali Ke Artikel | Kembali Ke Atas ↑

Baca dulu!!!
[ Blog NoFollow ] Anda bisa bebas berkomentar, entah itu komentar baik atau jelek. Karena kotak komentar ini tidak saya pasang moderasi, jadi jika Anda berkomentar, saya tidak membaca komentar Anda, dan komentar Anda langsung muncul tanpa sepengatahuan saya.
[ Maaf saya tidak membaca komentar Anda ] Selamat berkomentar ria :

0 komentar :


Update Artikel di Akun Anda

On FaceBook

Total Penayangan Halaman

Versi web | Lihat versi ponsel
© Copyright 2011 - CentralArtikel.com | Design By Lutfi Setiyawan | Official published in 20 Mei 2010 | Best view in Google Chrome