Selasa, 28 September 2010

Berita Lengkap Ibu Kota Akan Pindah Ke Palangkaraya, Benarkah ?

| Selasa, 28 September 2010 |0 komentar

Ingin Langganan Artikel Menarik?
Kirim artikel ini dan dapatkan artikel-artikel menarik terbaru.

Home » Site Map » Category [ ] » Disini
Berita Lengkap Ibu Kota Akan Pindah Ke Palangkaraya
Akankah Ibu Kota Akan Di Pindahkan ? Anda Setuju ?

Ibu Kota Pindah Ke Palangkaraya?, banyak yang mengatakan Ibu Kota Akan Pindah Ke Palangkaraya. bagaimana jika Ibu Kota Memang Benar Pindah Ke Palangkaraya? Entah impian Soekarno akan terwujud atau tidak, wacana pemindahan ibukota Jakarta yang sudah tidak kondusif mulai ramai dibicarakan media massa. Terdengar juga nama kota Palangka Raya disebut-sebut sebagai salah satu kandidat pengganti Ibukota. Gubernur Kalimantan Tengah pun mulai giat mempromosikan dan menyatakan bahwa Palangkaraya siap menjadi ibukota. Memang dalam aspek historis kota Palangka Raya adalah impian Soekarno pada tahun 1957 sebagai Ibukota NKRI.

http://pemudankri.files.wordpress.com/2010/08/palangkaraya.jpg
Sangat sulit memang membayangkan, ibukota negara dipindahkan ke lain kota. Kira-kira berapa lama dan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Berapa banyak perwakilan negara harus dipindahkan, belum lagi kantor-kantor pusat yang begitu banyak tersebar seantero Jakarta. Sejarah pemindahan ibu kota suatu negara sudah pernah dilakukan beberapa negara seperti Arab Saudi (Jeddah ke Riyadh), Jepang (Kyoto ke Tokyo), Australia (Sidney ke Canberra), Jerman (Bonn ke Berlin), Brazil (Ria de Jeniro ke Brasilia), dan USA (New York ke Washington DC). Demikian pula Malaysia yang sejak 1999 melakukan pemindahan ibu kotanya dari Kuala Lumpur ke Putra Jaya –sebuah kota baru yang terencana–. Kabarnya pemindahan ini membutuhkan waktu 15 tahun dengan biaya mencapai 57 trilyun.

Jakarta memang kian semrawut, beban pemerintahan kian berat. Sejak Jehansyah Siregar, Ketua Tim Visi Indonesia 2033 mengeluarkan wacana ini, berbagai pro dan kontra muncul. Isu Palangkaraya sebagai calon pengganti ibu kota kembali timbul setelah lama tenggelam dalam ambisi Soekarno tahun 1957-1959. Palangka Raya memang cukup strategis untuk dibentuk menjadi ibu kota. Meskipun kota ini masih dalam tahap perkembangan dibanding ibu kota propinsi lain, kota ini memiliki nilai historis yang kuat akan perencanaannya sebagai ibukota. Dari sisi geografis, kota ini memiliki lahan yang luas, tidak masuk wilayah gempa dan berada di pulau yang dihuni 3 negara. Dengan kata lain, lokasinya sangat strategis untuk pertahanan Indonesia. Secara geopolitik, Palangkaraya berada di tengah-tengah Indonesia, sehingga diharapkan bisa lebih dekat menjangkau wilayah timur yang selama ini ketinggalan.

Melihat kota ini memang dirancang secara rapi oleh arsitek presiden RI pertama, mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dll. Pak Karno bahkan pernah menyewa insinyur Rusia terkenal untuk membuat jalan aspal di tanah bergambut di Jln. Tjilik Riwut arah Tangkiling-Kasongan. Jika kita berjalan-jalan dan mengamati kota Palangkaraya, sangat tampak bahwa kota ini sudah memiliki rencana desain sebelum penduduk bermukim, dilihat dari luas jalan yang lebar, disamping kanan dan kiri jalan terdapat taman dan jalan pedestrian, taman di antara ruas jalan, dan bundaran.

Di dalam Buku yang ditulis Wijanarka, tidak banyak yang memahami dan menyadari bahwa bundaran besar (nama popular saat ini) yang terletak dipusat kota yang dikelilingi oleh Istana Gubernur (lambang pemerintahan), Gedung Batang Garing (lambang bisnis) maupun Palangkaraya Mall (sarana hiburan rakyat). Menurut Wijanarka, Di depan istana, terdapat jalan silang 8 bundaran dengan jari-jari bundarannya 2×45 meter. Konsep desain silang 8 bundaran ini menyimbolkan bulan dan tahun kemerdekaan RI. Delapan jalan silang tersebut memiliki dua makna yaitu menyimbolkan posisi Palangkaraya pada persimpangan delapan rumpun kepulauan RI (Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Nusa Tenggara dan Irian Jaya), dan delapan sungai besar di Kalimantan Tengah yaitu Barito, Kapuas, Katingan, Mentaya, Seruyan, Kahayan, Arut dan Lamandau.

Jika ibukota pindah ke kota Palangkaraya tentu akan terjadi gelombang transformasi dan akulturasi yang besar di Kalimantan Tengah. Dipastikan bahwa arus migrasi penduduk yang heterogen akan bertambah, bangunan akan semakin banyak, dan arus informasi yang cepat dan penuh persaingan. Memang tidak perlu membayangkan Palangkaraya akan menjadi seperti Jakarta yang macet, gedung bertingkat, mall dimana-mana, tingkat kriminalitas yang tinggi dan sebagainya. Tetapi lambat laun, mungkin 20-35 tahun ke depan, nasib ibu kota akan ramai dan padat. Positifnya adalah Palangka Raya akan menjadi lebih baik secara ekonomi, pembangunan akan berjalan serta pendidikan akan lebih berkualitas sebagai kota pusat pemerintahan.

Menjadi ibukota pemerintahan lambat laun akan sejalan dengan masuknya iklim investas besar-besarani. Pendatang akan makin banyak memberi peluang besar mereka untuk berbisnis. Tetapi disisi lain, bagaimana dampak sosial maupun lingkungan Kalimantan Tengah yang akan muncul jika gelombang transformasi itu benar-benar terjadi?. Sampai sejauh mana kesiapan masyarakat lokal/asli serta kondisi lingkungan disini yang kerap mengalami kebakaran disetiap musim kemarau?. Sepertinya Palangka Raya memiliki PR tersendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan sebelum siap menjadi ibukota yang nyaman mengingat kondisi tanah gambut Kalimantan yang cukup rentan.

Masyarakat Betawi di Jakarta adalah salah satu contoh kelompok yang mengalami marginalisasi di wilayahnya sendiri karena resiko heterogenisasi ibukota. Belajar dari itu semua, masyarakat lokal perlu dipersiapkan secara mental akan arus migrasi tersebut. Pemerintah perlu mempersiapkan aturan-aturan yang tetap membela hak masyarakat adat serta budaya yang memiliki nilai-nilai lokal yang luhur. Tahap persiapan itu dilakukan supaya jangan sampai masyarakat lokal mengalami culture shock, karena biasanya masyarakat pendatang selalu membawa kebiasaannya ke daerah barunya. Tentu kita tidak berharap akan ada tragedi Sampit ke dua bukan. Bukankah kejadian masa lalu tersebut terjadi akibat hak-hak masyarakat adat yang tergusur?. Dan yang terpenting dari itu adalah uji Analis Dampak Lingkungan (UJI AMDAL) yang perlu dilakukan dalam setiap rancang perkotaan mengingat ekosistem gambut, orang utan dan hutan hujan tropis adalah kebanggan Kalimantan. Jika Ibu Kota Pindah ke Palangka Raya, apakah sudah menjamin terbebas dari asap tiap tahun?.

View for : Berita Lengkap Ibu Kota Akan Pindah Ke Palangkaraya
Sumber  Zendry-Online

Protected By : DMCA.com MyFreeCopyright.com Registered & Protected
UU Nomor 19 Tahun 2002 [ UU Hak Cipta ]

Anda tertarik dengan artikel ini? Bila Anda ingin me-Copy artikel ini,
Silahkan besertakan sumber dengan menaruh alamat berikut ke dalam artikel :


Loading...
Lihat semua Artikel disini | Site Map | Submit artikel ini ke LintasBerita.com
Yang mungkin Anda cari :

Poskan Komentar | Kembali Ke Artikel | Kembali Ke Atas ↑

Baca dulu!!!
[ Blog NoFollow ] Anda bisa bebas berkomentar, entah itu komentar baik atau jelek. Karena kotak komentar ini tidak saya pasang moderasi, jadi jika Anda berkomentar, saya tidak membaca komentar Anda, dan komentar Anda langsung muncul tanpa sepengatahuan saya.
[ Maaf saya tidak membaca komentar Anda ] Selamat berkomentar ria :

0 komentar :


Update Artikel di Akun Anda

Fans Page (New Widget)

Penayangan Halaman

Versi web | Lihat versi ponsel
© Copyright 2011 - CentralArtikel.com | Design By Lutfi Setiyawan | Official published in 20 Mei 2010 | Best view in Google Chrome